Rabu, 10 Juni 2015

" Perbedaan yang ada, akan menuliskan cerita. "

Selamat berjuang untuk kamu yang selalu memberikan hal-hal kecil yang tak pernah terbayangkan.
Kamu, bukan seseorang yang mampu berkata puitis.
bukan pula seseorang yang selalu bisa memberikan senyum termanis.
Tapi Kamu, seseorang yang mampu membuatku berdiri tegak, dan berkata aku hebat.


With Love,


To Transport, From Chemist.




" Ketahuilah, sejauh apapun kamu melangkah.
Diseberang sana, ada seseorang yang menunggumu untuk pulang."

- Anonim -

Senin, 07 Juli 2014

#4. KETIKA DIRIMU MENEMUKAN JALAN YANG LAIN.

Kita bertemu di antara langit senja. Langit luas yang menaungi seluruh jagat raya. Tak pernah terpikir olehku dapat bertemu lelaki gagah sepertimu. Yang dapat berubah seketika menjadi konyol saat berdua denganku. Kau itu sama seperti langit, sama-sama menaungi. Apabila langit menaungi seluruh manusia di bumi, maka kaupun juga menaungi manusia. Dan manusia itu bernama Aku,

Masa-masa peralihan itu kita lewati bersama. Peralihan saat mencari siapa sebenarnya kita ini. Kita sama-sama dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang kuat serta hebat. Perempuan yang menginginkan anak-anaknya suatu saat kelak dapat hidup bahagia. Perempuan itu sama-sama kita panggil Ibu. Ibumu menginginkan anak lelaki pertamanya berkecimpung dalam dunia militer sedang ibuku menginginkan anak perempuan terakhirnya berada dalam bidang kesehatan. Sederhana bukan? Hanya keinginan seorang Ibu.

Demi hormatmu terhadap perempuan yang telah melahirkanmu, maka kaupun memutuskan untuk masuk kedalam dunia militer. Tahun pertama masuk kau baik-baik saja, karena aku yakin kau daalah lelaki yang kuat. Untuk masalah fisik kau tak perlu diragukan lagi, tapi masalah hati? Aku belum mampu menjawabnya. Didikan orangtuamu yang keras itu menjadikan dirimu menjadi sosok yang keras pula.

Hari itu hari jumat, tepat setelah para lelaki menuntaskan kewajibannya terhadap sang maha kuasa, kau datang. Masih dengan seragam lengkapmu kau berjalan mendekat kearahku. Dengan wajah penuh peluh tapi aku tetap mengenalimu sebagai lelakiku.
“Maaf, aku menemukan jalan hidupku yang lain..”
Seketika hatiku menggeram hebat, pikiranku membeku dan otakku berhenti berpikit. Inikah akhirnya? Apa arti perjuangan diri kita masing-masing?
“Bukan, bukan.. kau jangan berpikiran macam-macam. Jalan hidupku yang lain adalah Pendidikanku..”

Tidak, dia tidak sejahat itu. Pendidikannya merenggut seluruh perhatiannya. Bahkan aku tidak mampu mengalihkannya. Aku sadar, ia merupakan seseorang yang tak mampu membagi perhatiannya.

Aku diduakan oleh pendidikannya, itu berarti aku diduakan dengan Ibu Pertiwi tentu saja aku kalah. Tak apa aku kalah, karena ini juga demi masa depannya. Teruskan saja perjuanganmu, akan kutunggu kau dari sekarang. Persiapkan hati utuhmu untukku, dan akan kupersembahkan pula hati ini untukmu.

#3. INI AKU.

Sudah jangan biarkan rasa ini semakin dalam lagi.
Aku tak mampu menopang perasaan apabila ini semakin dalam.
Hanya dengan melihatmu saja aku merasa senang.
Apalagi saat aku mengetahui namamu, rasanya ingin aku kelilingi dunia ini.
Apa kau tahu bagaimana menjadi diriku?
Apabila kau tersenyum, aku akan tersenyum lebih lebar.
Apabila kau bahagia, aku akan lebih bahagia.
Apabila kau menangis, akupun akan menangis melebihimu.
Entah apapun alasannya, yang kutahu dirimu  adalah suatu anugerah.
Walaupun aku bertaruh, kau mengetahui perasaanku saja tidak.
Tapi itu tak mengapa, karena mengetahuimu baik-baik saja itu juga sudah cukup bagiku.
Dapat kuingat saat itu, kau berjalan santai kearahku. Aku ingin menyapamu tapi bibir ini berkata lain, yang dapat kulakukan hanya terdiam terpaku tanpa melakukan apa-apa.
Sejujurnya aku iri dengan perempuan-perempuan lain yang dapat dengan santai menyapamu tanpa merasa takut.
Mengapa aku tak bisa seperti itu?
Mengagumi dengan suatu alasan klasik yang tak kunjung menyapa.
Mengagumimu seperti suatu pertanyaan yang tak kunjung ada jawabannya.
Mengagumimu pula seperti jalan gelap yang tak kunjung menemukan titik cahayanya. 

Sabtu, 03 Mei 2014

#2. AKU MELIHATMU DENGAN SEDERHANA

Aku melihatmu dengan sederhana. Sesederhana kau berjalan di jalan setapak yang penuh dengan air kubangan itu untuk mengambil sapu tangan merahku.

Aku melihatmu dengan sederhana. Sesederhana aku membawakan tas dinas milikmu ketika aku mengantarmu kedepan gerbang  tembok akademimu.

Aku melihatmu dengan sederhana. Sesederhana kau menggandeng kedua tanganku ketika kita berjalan beriringan kedepan teman-temanmu.

Aku melihatmu dengan sederhana. Sesederhana aku membawakan makanan kesukaanmu ketika kita bertemu.

Aku melihatmu dengan sederhana. Sesederhana ketika kita duduk berdua dibawah langit sore yang mendung itu.

Aku melihatmu dengan sederhana. Sesederhana aku merapihkan kemeja dinasmu dengan kedua tanganku.

Kita bertemu  dengan sederhana. Sesederhana ketika perhatian itu muncul diantara kita  berdua tanpa kita sempat untuk mencegahnya.

Kita bertemu dengan sederhana. Sesederhana ketika perhatian itu berubah menjadi sebuah rasa yang lebih sakral yang bisa kusebut itu sayang.

Kita menjalaninya dengan sederhana, menjalani semuanya tanpa menuntut apa-apa.
Kesederhaan ini muncul diantara perbedaan yang nyata, terbungkus rapi dengan sebuah kejujuran tanpa ada satu pun celah didalamnya.

Rangkaian kata demi kata dalam sebuah kalimat cinta itu tidak menandakan apa-apa, begitu katamu. Karena aku tahu, kau tak pandai membuat rangkaian kata seperti bahwasanya yang lainnya.

Setiap hal yang kita lakukan bukanlah hal mewah yang pantas untuk diperlihatkan, tapi setiap hal yang kita lakukan selalu membuat cerita manis didalam pikiran.

Karena sesungguhnya, sayang kepada orang lain itu tidaklah harus berlebihan. Asal keduanya sama-sama berjuang.


© aapangestu, May.